Penpro.id | Bukan sebuah kebetulan memang ketika saya malah ditugaskan mengikuti uji publik RUU Sistem Perbukuan (Sisbuk) di Medan. Awalnya kota terpilih adalah Makassar dan Solo, tetapi entah mengapa kemudian Panja RUU Sisbuk, Komisi X DPR-RI, akhirnya memutuskan Medan dan Semarang sebagai kota tempat uji publik diselenggarakan.

Senyampang itu saya memang jadi punya kesempatan pulang kampung dan yang sangat mengesankan juga dapat bersua dengan pengurus Penpro Medan yang baru terbentuk. Selepas uji publik hari Senin/20 Maret 2017, malamnya para pengurus Penpro yang diketuai Ibu Sukiati, dosen UIN SU, mengajak saya untuk bertemu di Resto Ayam Penyet Cindelaras, daerah Teladan, Medan.

Ada Bu Sukiati yang datang dengan suaminya, Prasetiyo (wakil sekretaris Penpro yang juga wartawan Elshinta Medan), Khairiah Lubis (wartawati DAAI TV), Sri Wahyuni (wartawati Dunia Melancong), Juniper (bankir yang doyan nulis), dan penulis ngetop di Medan, Vinsensius Sitepu. Obrolan malam itu berlanjut untuk rencana saya berbagi tentang menulis esok sorenya.

Gerak cepat, esoknya Khariah memastikan acara sharing kepenulisan itu diadakan di DAAI TV pukul 16.00. Pesertanya ternyata bertambah, termasuk Bang Nasib TS (redaktur harian Jurnal Asia) dan dua dosen senior UIN SU serta beberapa orang staf DAAI TV.

Jadilah tim Penpro Medan hari itu mendadak menulis. Saya membawakan tema “Hidup Seribu Tahun Lagi: Apa dan Mengapa Kita Menulis”. Acara berbagi dan diskusi sore itu begitu hangat dengan tanya-jawab kawan-kawan dari Medan ini. Bahkan, lebih dari tiga jam menjadi tidak terasa.

Hujan lebat yang mengguyur kota Medan serta hawa dingin dari AC di DAAI TV kalah oleh hangatnya diskusi, terutama terkait soal filosofi untuk apa dan mengapa kita menulis. Dan saya sadar bahwa kawan-kawan di Medan ini bukanlah para penulis kemarin sore. Mereka orang-orang tangguh dari ranah akademis dan ranah jurnalistik yang sudah kenyang ditempat kata-kata. Bahkan, Medan dulu sempat menjadi barometer perbukuan Indonesia serta gudangnya para penulis (sastrawan).

Apa yang saya risaukan karena saya juga berasal dari Medan adalah kurangnya akses kawan-kawan penulis di Medan untuk unjuk karya secara nasional. Menerbitkan dan mencetak buku di Medan konon lebih mahal daripada di Jawa. Penerbit di Sumut pun yang kini masih eksis dan aktif kurang dari jumlah jari satu tangan.

Geliat Medan sebagai kota literasi sebenarnya denyutnya masih kuat. Adalah Venny Eriska yang baru berusia 16 tahun ikut juga dalam acara “mendadak menulis” itu. Venny ternyata sudah menulis sebuah novel berlatar belakang Jepang berjudul Sensei. Namun, novel anak Medan ini ternyata harus diterbitkan di Bandung. Dan menurut saya, Venny sangat berbakat menjadi tukang cerita.

Saya dan Venny, penulis novel Sensei.
Foto bersama Pengurus dan anggota Penpro Medan

Waktu tiga jam harus berakhir dan tidak terasa memang. Apa yang saya sampaikan belumlah tuntas. Namun, kami bersepakat ini adalah pertemuan perdana dan insya Allah jika ada masa lagi, akan dibuat acara “mendadak menulis” yang lebih serius.

Ya, saya berencana memang kembali ke Medan tanggal 23 Maret dalam rangka peluncuran biografi seorang tokoh Medan. Ada waktu esoknya untuk berbagai kepada anggota Penpro lebih banyak lagi. Tugas saya memang mengompori semangat untuk menjadikan menulis sebagai bagian yang mendukung impian setiap anggota Penpro, sekaligus menunjukkan jalan menjadi penulis profesional.

Semoga saya dapat mengunjungi kota-kota lain di seluruh Indonesia dan berbagi tentang pengalaman-pengalaman menulis kepada para anggota Penpro. Horas!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here